CIMAHI EKSPRES – Masyarakat Indonesia patut bersiap menyaksikan fenomena langit langka pada Selasa malam, 3 Maret 2026. Gerhana Bulan Total dipastikan dapat diamati di hampir seluruh wilayah Tanah Air. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut peristiwa ini sebagai salah satu fenomena astronomi paling menarik tahun ini karena akan membuat Bulan tampak berwarna merah darah atau dikenal sebagai Blood Moon.
Bagaimana Gerhana Bulan Total Terjadi?
Gerhana Bulan Total terjadi ketika Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam satu garis lurus. Dalam posisi ini, Bumi menghalangi cahaya Matahari yang seharusnya menyinari Bulan. Akibatnya, Bulan masuk ke dalam bayangan inti (umbra) Bumi.
Fenomena ini hanya terjadi saat fase purnama dan kerap menjadi momen favorit para pecinta astronomi serta fotografer karena tampilan visualnya yang dramatis dan jarang terjadi.
Jadwal Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026
BMKG telah merinci tahapan gerhana agar masyarakat tidak melewatkan momen puncaknya:
- 15.42 WIB – Gerhana Penumbra dimulai
- 16.49 WIB – Gerhana Sebagian (parsial) dimulai
- 18.03 WIB – Gerhana Bulan Total dimulai
- 18.33 WIB – Puncak Gerhana Bulan Total
- 21.24 WIB – Gerhana berakhir
Wilayah Indonesia Tengah (WITA) dan Indonesia Timur (WIT) diprediksi memiliki peluang pengamatan lebih optimal saat fase awal, karena posisi Bulan sudah cukup tinggi ketika Matahari terbenam.
Mengapa Bulan Tampak Merah?
Saat fase totalitas, Bulan tidak benar-benar gelap. Warna kemerahan muncul akibat pembiasan cahaya Matahari oleh atmosfer Bumi. Spektrum cahaya biru tersebar, sementara cahaya merah tetap diteruskan dan menyinari permukaan Bulan.
Tips Menyaksikan Gerhana Bulan Total
Kabar baiknya, Gerhana Bulan Total aman disaksikan dengan mata telanjang tanpa alat pelindung khusus. Namun, untuk pengalaman yang lebih detail, Anda bisa menggunakan:
- Binokular
- Teleskop sederhana
- Kamera dengan lensa tele untuk fotografi
Pastikan memilih lokasi dengan langit cerah dan minim polusi cahaya. BMKG juga mengimbau masyarakat untuk memantau prakiraan cuaca setempat agar tidak terhalang awan saat momen puncak berlangsung. Selain Indonesia, fenomena ini juga dapat diamati di kawasan Asia Tenggara, Australia, hingga sebagian Asia Timur.***







