CIMAHI EKSPRES – Pemerintah Kuba mengungkapkan telah menjalin komunikasi dengan otoritas Amerika Serikat menyusul dugaan upaya infiltrasi teroris yang melibatkan sebuah kapal yang berangkat dari wilayah AS. Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Luar Negeri Kuba, Carlos Fernandez de Cossio, dalam keterangannya di Havana pada Kamis (26/2).
Menurut de Cossio, aparat Kuba mencegat kapal yang terdaftar di Florida dengan sepuluh orang di dalamnya. Kelompok tersebut diduga berusaha memasuki wilayah Kuba dengan tujuan melakukan aksi terorisme. Ia menegaskan bahwa begitu diketahui kapal berasal dari wilayah Amerika Serikat, otoritas Kuba segera membuka jalur komunikasi dengan mitra mereka di AS, termasuk Departemen Luar Negeri dan Penjaga Pantai.
“Sejak awal, dan setelah mendeteksi bahwa kapal tersebut berasal dari wilayah AS, otoritas Kuba telah menjalin komunikasi mengenai upaya teror ini dengan mitra mereka di AS, termasuk Departemen Luar Negeri dan Penjaga Pantai,” ujar de Cossio.
Ia menambahkan bahwa proses penyelidikan masih berlangsung. Pemerintah Kuba kini berupaya memperdalam pertukaran informasi dengan Washington, yang menurutnya menunjukkan kesiapan untuk bekerja sama dalam menangani kasus tersebut.
Berdasarkan keterangan awal otoritas Kuba, sejumlah senjata ditemukan di atas kapal yang dicegat. Barang bukti yang disita meliputi senapan serbu, pistol, bom molotov, perangkat penglihatan malam, amunisi, serta alat komunikasi. Meski demikian, rincian lengkap terkait temuan tersebut masih dalam tahap verifikasi lebih lanjut.
De Cossio juga menyampaikan bahwa sebelumnya Kuba telah berbagi informasi intelijen dengan pihak AS mengenai individu yang dicurigai, dengan merujuk pada Resolusi 1373 Dewan Keamanan PBB tentang pemberantasan terorisme. Ia menegaskan kembali komitmen negaranya untuk menolak segala bentuk, metode, dan praktik terorisme.
Sehari sebelumnya, pemerintah di Havana menyatakan bahwa kapal yang membawa sepuluh orang bersenjata itu sempat melepaskan tembakan ke arah penjaga perbatasan Kuba. Insiden tersebut dilaporkan menyebabkan empat orang tewas dan enam lainnya mengalami luka-luka. Otoritas Kuba menggambarkan kejadian itu sebagai upaya infiltrasi bersenjata yang berhasil digagalkan.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyatakan bahwa Washington tengah melakukan penyelidikan secara terpisah terkait insiden tersebut. Ia menekankan bahwa pemerintah AS akan memverifikasi secara independen informasi yang telah disampaikan oleh pihak Kuba.*








