CIMAHI EKSPRES – Kemenangan Real Madrid atas Benfica di Liga Champions bukan sekadar tentang tiket babak 16 besar. Pertandingan tersebut berubah menjadi simbol solidaritas setelah mencuat dugaan tindakan rasisme pada pertemuan pertama kedua tim.
Dalam laga leg kedua di Santiago Bernabeu, Madrid menang 2-1 dan memastikan agregat 3-1. Gol penentu dicetak oleh Vinicius Junior pada menit ke-80. Selepas bola bersarang di gawang lawan, ia kembali menampilkan tarian khasnya di dekat bendera sudut lapangan seperti selebrasi yang sama seperti di leg pertama.
Namun tarian itu memiliki makna lebih dalam.
Selebrasi sebagai Bentuk Perlawanan
Sebelumnya, Vinicius mengaku menerima perlakuan rasial dari pemain Benfica, Gianluca Prestianni. Tuduhan tersebut dibantah, tetapi sanksi larangan satu pertandingan tetap dijatuhkan kepada sang pemain sehingga ia absen pada leg kedua.
Insiden itu membuat atmosfer laga jauh lebih emosional. Bagi Vinicius, gol dan tarian bukan hanya perayaan, melainkan pernyataan sikap. Dalam beberapa musim terakhir, ia memang kerap menjadi sasaran pelecehan rasial di berbagai stadion Eropa. Namun setiap kali mencetak gol, ia memilih tetap menari.
Selebrasi itu kini menjadi simbol keteguhan: bahwa identitas dan ekspresi diri tidak bisa dibungkam oleh intimidasi.
Usai pertandingan, Vinicius menulis pesan singkat di media sosial yang menegaskan bahwa tariannya akan terus berlanjut. Kalimat tersebut dipahami luas sebagai komitmen bahwa ia tidak akan menyerah menghadapi diskriminasi.
Solidaritas dari Tribun dan Ruang Ganti
Dukungan terhadap Vinicius tidak hanya datang dari lapangan. Sebelum kick-off, suporter membentangkan spanduk bertuliskan “No al racismo” sebagai bentuk solidaritas. Pesan itu menegaskan bahwa rasisme adalah persoalan bersama yang harus dilawan secara kolektif.
Rekan-rekan setimnya juga menyuarakan dukungan terbuka. Gelandang Aurelien Tchouameni menyebut kemenangan tersebut lebih dari sekadar hasil pertandingan, melainkan kemenangan bagi semua pihak yang menolak rasisme.
Bek Trent Alexander-Arnold menilai Vinicius tetap fokus dan tidak perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun karena kualitasnya sudah berbicara sendiri. Sementara penjaga gawang Thibaut Courtois mengaku senang melihat Vinicius terus menari hal ini sebagai tanda bahwa ia terus mencetak gol dan membantu tim.
Pelatih Alvaro Arbeloa pun memberikan dukungan penuh. Ia menyebut momen gol tersebut memiliki makna emosional yang jauh lebih dalam daripada sekadar angka di papan skor.
Malam Sarat Emosi di Bernabeu
Pertandingan itu juga menghadirkan nuansa nostalgia dengan kembalinya Jose Mourinho ke stadion yang pernah ia tangani pada periode 2010–2013. Meski tidak berada di bangku cadangan karena sanksi, kehadirannya tetap mencuri perhatian.
Di sisi lain, Madrid tampil tanpa Kylian Mbappe yang mengalami cedera lutut. Keputusan tersebut diambil demi memastikan sang penyerang pulih sepenuhnya untuk laga-laga krusial berikutnya.
Meski begitu, sorotan utama tetap tertuju pada Vinicius. Dalam tekanan dan sorotan tajam, ia memilih menjawab dengan performa. Golnya bukan hanya memastikan kelolosan Madrid, tetapi juga menyuarakan pesan moral yang lebih luas.
Pada malam itu, sepak bola melampaui batas kompetisi. Ia menjadi ruang solidaritas dan perlawanan terhadap diskriminasi. Tarian Vinicius yang terus berlanjut menjadi simbol bahwa perjuangan melawan rasisme tidak berhenti di lapangan.***








